Senin, 17 Oktober 2011

Beternak Cacing, prospek bisnis menggiurkan

Beternak cacing, dalam benak kita, mungkin menjadi sesuatu yang aneh. Tapi, sejenak kita melihat beternak cacing dari peluang masa depan.
Indonesia sebagai negeri dengan potensi domestik yang luar biasa, membuat perusahaan asing berlomba menanamkan modal investasinya ke Indonesia. Selain tenaga kerja yang murah, Indonesia dengan alam yang tumbuh subur, membuat resiko dalam bisnis bidang agro memiliki nilai potensi kerugian yang sangat rendah. Bayangkan, dengan investasi bibit tanaman apapun, dengan cost of production yang rendah, para pengusaha bisa meraup keuntungan yang sangat luar biasa. Indonesia, sebenarnya memiliki kualitas SDM yang baik, tapi dengan pola yang sedemikian hingga, membuat SDM yang berkualitas ini, hanya menjadi "pekerja" tanpa memiliki nilai tawar apapun, selain karena modal dan regulasi pemerintah yang tidak mendukung, SDM Indonesia juga tertididik untuk menjadi "karyawan" yang tentu saja dengan nilai jual yang rendah.
Namun, sekali lagi kita tidak akan membahas itu semua. Sedikit menisik program pemerintah mengenai program swasembada daging 2014 yang dicanangkan oleh Kementrian Pertanian. Sangat menarik, karena kita disini akan sangat bangga, apabila pemerintah dengan regulasi kebijakan yang mendukung, dapat memenuhi 14,2 juta ekor sapi permintaan daging masyarakat. Kalau kita dapat membayangkan, dengan jumlah ekor sapi sebanyak itu, bisa menggantikan 1 kecamatan manusia, hehe..
Lantas, ngapain dengan 14,2 juta ekor itu? dengan 14,2 juta ekor sapi, jika dikalkulasikan dengan jumlah feses yang dihasilkan perhari, berapa ton? (1 ekor sapi menghasilkan 20 kg feses per hari x 14,2 juta ekor sapi) bisa dibayangkan, betapa lumpur lapindo bisa berubah nama menjadi lumpur feses.. hehe
sebenarnya, ada potensi terpendam, yang jika kita bisa mengelolanya, akan menjadi satu peluang menjanjikan.
yup, CACING TANAH.
Dikenal sebagai hewan dengan tingkat reproduksifitas yang sangat tinggi, dapat menjadi biocomposter alami (mengolah feses menjadi pupuk, tanpa tambahan bioaktifator yang terkenal mahal, sehingga low of production dapat dicapai). Selain itu, dengan pengolahan yang baik, cacing tanah yang telah diolah menjadi tepung cacing tanah, memiliki nilai permintaan yang sangat tinggi, karena sangat baik untuk pakan. Cacing tanah, memiliki enzim bioaktifator yang dinamakan enzim lumbricin, dengan struktur peptida dengan panjang molekul 76AA dan berat molekul 8849Da. Beberapa pustaka menunjukan, bahwa dengan pemakaian 0,5% tepung cacing tanah, dapat meningkatkan efisiensi pakan ayam sebanyak 12,7%. Teknologi pakan ini, sudah di implementasikan di korea, sedang di Indonesia, masih belum digunakan karena produksi yang masih sangat rendah. Selain untuk pakan ayam, cacing tanah sangat baik untuk pakan ikan, dan sudah terbukti pemakaiannya di beberapa perikanan lokal.
Pemeliharaan cacing tanah, bisa dikatakan sangat mudah dan low of cost production, atau bahkan bisa dikatakan zero cost of production. Karena, cukup dengan campuran antara feses (limbah by product ternak sapi) dan kotoran apapun (daun kering, limbah jerami dll), sudah sangat baik untuk pertumbuhan cacing tanah, tentu saja dengan kelembaban yang cukup. Out put yang dihasilakan, tentu saja pupuk organik dan cacing tanah itu sendiri. Dan lama pemeliharaannya? sangat singkat!.
Cukuplah bisa disimpulkan, bahwa peternakan cacing, SANGAT MENGGIURKAN!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar